Ortu Soleh, Anak Aneh

Ortu Soleh, Anak Aneh
Banyak contoh yang menggambarkan perilaku yang muncul pada diri anak, dimana perilaku tersebut bertolak belakang dengan kepribadian orangtuanya yang –konon- soleh, berwibawa, mengerti terhadap agama dan paham terhadap norma-norma.

Contoh nyata yang saya temukan langsung di lapangan misalnya:
  1. Putra dari seorang ustadz yang sekaligus politisi terkemuka di sebuah daerah, ternyata merupakan murid SD paling bermasalah di sekolahnya. Mulai dari nilai akademisnya yang paling “jeblok”, paling sulit diatur dan cenderung sebagai trouble maker di dalam kelas. 
  2. Seorang anak berusia Taman Kanak-kanak yang serba permisif dan hampir tak pernah mengindahkan sopan santun. Bahkan ketika diingatkan sekalipun, tampak tak menghiraukan. Begitu melihat handphone tergeletak (milik siapa pun), ia lagsung bermain game hingga sulit sekali untuk diminta berhenti. Begitu pula ketika memasuki rumah orang, ia langsung menyalakan TV dan memindah-mindahkan chanelnya. Bahkan pernah pula ia membuka tas orang kemudian ia mengambil sendiri laptop yang ada didalamnya. Padahal, Ibu dan Bapaknya cukup mengerti tentang pendidikan, baik pendidikan umum maupun pendidikan agama.
  3. Anak perempuan berusia kurang lebih 2,5 tahun tengah berada di tengah acara family gahering. Ketika seorang ustadz sedang menyampaikan ceramah, anak yang cenderung sangat aktif dan hampir tak mau diam tersebut menendang bola hingga mengenai mikrophone yang tengah digunakan oleh sang ustadz.
  4. Ada seorang anak perempuan manis dan cantik dimana ia memiliki perilaku yang cukup sulit diarahkan yaitu sikap manja yang berlebihan. Saking manja, hampir semua keinginannya harus terpenuhi. Dan ketika ia diminta untuk melakukan sesuatu sesederhana apapun, sulitnya luar biasa (misal; diminta untuk bergeser, barangnya hendak dipinjam, dll). Padahal, bapak dan Ibunya cukup kencang dalam menyuarakan dakwah.
Cukup miris dan ironis ketika melihat beberapa kenyataan seperti digambarkan diatas. Dan yang lebih miris lagi ketika orangtua dari beberapa anak yang dimaksud merasa tidak khawatir, merasa diri bahwa pola pendidikan dan pengasuhan yang dilakukannya benar, tidak merasakan ada yang janggal dengan diri anaknya, serta tidak berupaya untuk mengingatkan bahwa perilaku-perilaku yang muncul pada anaknya itu –baik spontan ataupun tidak- adalah tidak benar.

Melihat fenomena ironisme yang ada, bisa jadi hal tersebut muncul sebagai dampak dari kekeliruan pengasuhan, dimana pendidikan moral dan penerapan sistem nilai tidak lagi dijadikan sebagai prioritas. Bahkan lebih parah lagi ketika perilaku negatif atau destruktif itu timbul, sementara orangtua keukeuh merasa dirinya soleh dan lurus, dengan mudahnya mereka mengatakan bahwa ini adalah ujian. Padahal sejatinya, sesoleh dan sehebat apapun orangtua, ketika kemudian anaknya tampil sebagai pribadi yang memiliki label negatif dan bermasalah, maka alangkah bijaknya bila ia mengeavaluasi diri tentang sejauh apa upaya-upaya pegasuhan yang telah ditempuhnya. Sehingga bisa saja, ketidaksolehan yang muncul pada diri anaknya diakibatkan dari pola asuhnya yang salah kaprah.

Selanjutnya, salah satu kesalahan beberapa orangtua –baik disadari atau tidak- terkait hal ini adalah TIDAK MENGINGATKAN dan CENDERUNG MEMBIARKAN perilaku negatif anakanya mengalir begitu saja. Contohnya:
 
  1. Tidak pernah memberi penekanan yang menegaskan, ketika sang anak merengek dan memaksa agar keinginannya terpenuhi dihadapan banyak orang. 
  2. Orangtua cenderung diam dan tidak mengingatkan ketika anaknya tengah mengganggu anak lain, merebut barang.
  3. Bersikap datar dan memandang tidak salah ketika anaknya bersikap permisif (misalnya berani membuka dompet, masuk kamar orang dan bermain-main diatas kasur, memainkan handphone milik orang lain, dll)
  4. Tidak berupaya memberikan treatment dan penegasan ketika anak berani melawan, membangkang, meludahi, memukul, menendang dan tindakan destruktif lainnya.
  5. Memiliki prinsip yang terlalu kaku tentang tidak boleh melarang anak untuk melakukan sesuatu. Padahal pengasuhan yang bijak adalah menggunakan prinsip bebas terbatas.
Jika kesalahan tersebut dibiarkan dianggap biasa, tentu saja akan menjadi masalah yang cukup patal. Karena tanggung jawab orangtua tidak sebatas pada menjaga, melindungi dan memenuhi kebutuhan biologisnya (makan, minum, kesehatan, dll) semata, melainkan membentuk karakter dan kepribadian pun harus menjadi poin penting yang tidak bisa dibaikan begitu saja. Terlebih ketika jika disadari lebih jauh, perilaku negatif yang muncul bahkan sudah menjadi sebuah habits, akan sangat menganggu terhadap kehidupan sosial.

Menjadi orangtua yang bijaksana dan mampu membentuk putra-putrinya menjadi generasi yang berbudipekerti memang tidak mudah seperti halnya mebalikkan telapak tangan. Namun paling tidak, ada beberapa prinsip yang harus dipegang, sehingga kita tidak terjebak dalam pengasuhan yang salah kaprah.
  1. Meyakini bahwa berkomunikasi terhadap anak adalah niscaya. Dan manfaatnya pun luar biasa. Selain sebagai media interaksi yang lebih mendewasakan dan memahamkan anak terhadap sesuatu, juga merupakan tindakan preventif sehingga anak kita memiliki kendali dalam setiap ucapan, perbuatan dan tindakan 
  2. Miliki sensor yang tajam terkait perilaku anak kita. Adakah hal-hal negatif yang mencurigakan dan perlu diluruskan. Semakin cepat mencermati, menganalisa dan mengambil sikap, maka akan semakin mudah pula menyelamatkan anak kita dari perilaku yang tidak diharapkan. Contoh kecil misalnya; kenapa sekarang-sekarang ini anak kita cenderung lebih suka menyendiri, kenapa akhir-akhir ini anak kita seringkali berargumen dan melakukan justifikasi terhadap kesalahan yang diperbuatnya, dll. 
  3. Titipkanlah sepenuhnya buah hati kita kepada Allah SWT Yang Maha Menjaga. Jangan pernah merasa bahwa anak sudah baik dan tanpa masalah, sehingga kita tidak pernah memohon do’a untuk kesolehannya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ortu Soleh, Anak Aneh"

Posting Komentar